Sosiawan Leak yang Hiruk Pikuk

You may also like...

3 Responses

  1. DeMIS says:

    meruginya aku tidak meliat perhelatan akbar di Teater Arena Taman Budaya, SOlo Jawa Tengah…

    kueren mas…
    salam,
    (YM: sate_onta87)

  2. haris says:

    makasih demis. kau mncl lagi ya…he2

  3. lintang lanang says:

    menarik sekali membaca tulisan anda. terus terang saja saya baru menyadari bahwa ternyata ada mahzab yang saling bertolak belakang di dunia perpuisian kita.dan dari tulisan anda, terlihat sekali bahwa anda adalah salah satu dari orang2 yang ‘agak’ kurang menyukai jika puisi harus dipoles sedemikian rupa dalam sebuah pementasan.

    saya bukan bermaksud menyalahkan persepsi anda.bukankah tiada yang salah dalam ketidaksalahan? hanya saja mungkin anda harus mencermati, konteks apa yang sedang kita hadapi. dan dalam ‘kasus’ pembacaan puisi oleh Sosiawan Leak, saya akui disitu puisi memang bukan lagi berperan sebagai puisi yang murni. melainkan ‘sekedar’ sebagai ‘naskah’ dalam sebuah pertunjukan. dan dalam sebuah seni pertunjukan, adalah sesuatu yang wajar (bahkan mungkin wajib)jika ada banyak faktor pendukung yang harus ditempelkan di sana sini, demi tujuan untuk membuat pertunjukan itu menjadi lebih menarik. jadi bukan sesuatu yang mengherankan jika disitu diharuskan ada bebunyian musik, tata cahaya, teriakan, erangan, dan segala ekspresi dari sang pembaca puisi, karena memang yang digarisbawahi disini memang adalah sebuah ‘seni pertunjukan’ yang kebetulan menjadikan puisi sebagai ‘naskahnya’, bukan lagi puisi yang murni puisi (yaitu barisan kata2 indah yang tertoreh di atas kertas)

    puisi tidaklah sama dengan lukisan, dimana lukisan mempunyai sebuah keindahan visual yang bisa ditatap dengan mata telanjang. sedangkan keindahan puisi ada dan tersimpan di tiap larik2 kata , yang hanya bisa dinikmati dengan bantuan ‘rasa’. bukankah lebih baik jika puisi itu dibacakan, dengan tujuan agar pesan yang tersimpan di situ bisa sampai kepada yang dituju (komunikan), daripada puisi dibingkai dalam pigura di sebuah ruang pameran? hal ini bukan sebuah guyonan, tapi memang benar2 sudah pernah saya temui. (kalo tidak salah pameran puisi ini diprakarsai oleh Komunitas Solo Dedikasi (KOSDEK) di Balai Soedjatmoko Solo beberapa tahun yang lalu.)

    tapi sekali lagi, semua itu tergantung dari diri kita pribadi. karena memang itulah hakekat seni, yaitu kemerdekaan berekspresi. hanya yang perlu saya garis bawahi adalah bahwa apa yang dilakukan oleh Sosiawan Leak adalah
    sebuah ‘seni pertunjukan’, dimana puisi hanyalah sekedar menjadi salah satu faktor pendukung (selain faktor2 yang lain) sebuah ‘seni pertunjukan’.

    salam…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>