Masa Lalu dan Penolakan Posmodernisme

You may also like...

6 Responses

  1. zen says:

    STA, di awal tahun 80-an, sudah pernah menulis soal posmodernisme. Hanya saja, tidak dengan semangat menggebu seperti Yasraf (misalnya), tapi masih dilambari etos seorang pembela modernisme yg gigih.

    Itulah STA.

    *im back, bro*

  2. Haris Firdaus says:

    to: zen
    mungkin karena di tahun 80-an, emang belum ada yang perlu digembar-gemborkan soal posmodernisme di indonesia, zen.

    btw, siplah u balik! tapi kok aku ngertine telat ya! wah gawat ki!

  3. omahseta says:

    begitu ayat pertama turun, islam sudah posmodern. karena meminta membaca segala hal, yang artinya menisbatkan bahwa semua adalah teks, hehehe…

    wes dijupuk honore, hihiihi… makan2 dung!

  4. Haris Firdaus says:

    to: omahseta

    berarti menurut mas aul, islam membolehkan dekonstruksi segala hal dunk? ha2.

    *durung tak jipuk, mas. lagi sesuk* ha2

  5. galendo says:

    sayangnya posmodernisme pada akhirnya menjadi tempat “bersembunyi” yang rindang untuk pemuja kedangkalan, lalu menjadi alibi untuk kemalasan berpikir.

    tau sangat sedikit tentang banyak hal rupanya lebih keren dibanding tau banyak tentang sedikit hal…

  6. haris says:

    to: galendo. sy kok tidak melihat posmodernisme diposisikan sg tempat bersembunyi bagi kedangkalan. adakalanya begitu, tapi juga tak selalu begitu, mas.

Leave a Reply to haris Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>