Anak-anak dari Dusun Global

You may also like...

20 Responses

  1. Dony Alfan says:

    Apakah ini tanggung jawab media? Atau mungkin tanggung jawab pendidik yang harus lebih mengenalkan kebudayaan lokal kepada anak2?
    Lukisane si Eddy lucu tenan, wkwkwkwkwkwk

  2. Pencerah says:

    Jadi merasa prihatin dengan anak2 jaman sekarang. Kerancuan fikiran berpengaruh dalam imaji dan tindakan mereka

  3. SEOnesia says:

    Ternyata anak anak kita tertekan oleh imaji media

  4. Tukang game says:

    Anak tanpa identitas

  5. ciwir says:

    anak2 jaman sekarang beda dengan jaman dulu

    yo genag beda wong jamane wae wus beda..

  6. Dika says:

    Lukisannya bagus banget nih..memasukkan budaya indonesia dengan manga..sakura jualan jamu gendong..

    Salam kenal,
    Mencari Blogpreneur

  7. suryaden says:

    dunia imaji mungkin di seluruh jagad semuanya bisa bertemu dalam langkah dan padanan tingkat perkembangan kemanusiaan, so.. don't worry…

  8. masmpep says:

    saya membayangkan saudara saya haris berjalan pelan-pelan di selasar balai sudjatmoko. membawa katalog kecil pameran. mengamati lukisan dari jarak satu meter. kemudian mundur pelahan. mengambil posisi menelengkan kepala. mengeleng-geleng. namun sesaat kemudian manggut-manggut.

    agar lebih rileks, kedua tangan mengambil posisi istirahat di belakang pinggul. manggut-manggut lagi. cepat-cepat mengambil katalog di saku. mencatat. nama pelukis dicatat dalam ingatan. merangkai beberapa kalimat manis untuk mengesani sang pelukis.

    sambil berjalan saudara saya haris mulai menyusun kerangka lead, yang segera akan diunggah ke dalam blog-nya.

    "Perlahan-lahan ada yang sedang berubah dari dunia anak-anak di sekeliling kita. Sebuah pergeseran yang terjadi dalam imajinasi mereka, juga ketertarikan, dan harapan-harapan." satu kalimat apresiatif, berusaha untuk mengikuti gelegak zaman, meski kemudian menyisipkan mimpi-mimpinya dan gambaran kanak-kanak yang mungkin dulu dilewatinya: "Kebudayaan anak-anak Indonesia tak mungkin lagi dianggap sebagai ruang sempit yang hanya berisi produk-produk kultural yang ditafsirkan sebagai “asli Indonesia”. Suka atau tidak, kita sedang menyaksikan anak-anak itu memasuki satu ranah budaya baru: sebuah lanskap kultural yang pernah disebut Marshall McLuhan sebagai “dusun global”." Saudara saya haris berusaha menuliskannya dengan ringan dan non etis. bahwa ia tak merasa diinterupsi oleh 'perubahan sosial' dalam alam pikiran kanak-kanak yang kini semakin merdeka.

    tak terasa sudah hampir satu jam lebih saudara saya haris mengamati lukisan demi lukisan. tersenyum sendiri. kemudian beramah-tamah sejenak dengan sejumlah panitia yang memang ia kenal. seorang yang lebih manis dalam pandangannya melempar senyum. saudara saya haris membalas senyumnya sambil membatin: semakin hari tambah manis ia. tak salah bila nanti malam saya undang makan di angkringan depan ISI, begitu kira-kira batin saudara saya haris.

    (ha-ha-ha. hanya mencoba membayangkan gimana caranya haris menulis reportase ini. menarik ris, kau buat proses kreatif lahirnya posting2mu di blog)….

  9. itempoeti says:

    harus ada revitalisasi nilai-nilai budaya bangsa…

  10. haris says:

    @masmpep

    komentarmu itu lucu dan indah juga. menulis tentang cara orang menulis dg cara yg indah. he2. dan imajinasimu itu kuat sekali. he2. soal yang "senyum manis" itu benar2 bikin saya ngakak. proses kreatif nulis blog? wah, menarik ituh. he2. kau dulu tapi mas febri yg bikin.

  11. senoaji says:

    Beruntung mereka bisamenuangkan imajinasinya.. terkait dengan budaya bumi mereka, memang butuh team solid kerjasama yang untuh antara anak dan budaya yang menghempitnya.

  12. mudz069 says:

    Saya pernah menonton sebuah film animasi barat yang dalam satu adegan ada sebuah telur bebek yang hampir menetas dan kebetulan didekatnya ada seekor tikus. Bisa ditebak saat sang bebek menetas so sang tikuslah yang dipanggil mama.
    Begitulah mungkin kira-kira apa yang ada di mindset kita, segala apa yang yang dekat dengan kita.
    Imajinasi kita sangat mungkin akan mengambil informasi dari "cache memory" sebagai library terdekat dan yang paling bisa diakses karena data library tentang budaya kita barangkali sedang krisis IRQ.
    Slot di TV banyak yang dihuni anime.
    Saya pikir ini "kerja bakti" berskala nasional agar budaya kita bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri.Jangan sampai pas sudah dicaplok orang lain baru teriak.

  13. hedi says:

    Imajinasi anak Indonesia memang lemah, bahkan menggambar pun lebih banyak pemandangan (selalu ada gunung dan sawah pula). Saya tak tahu bagaimana mengubahnya, minimal seperti ada anak bule yang saya lihat bisa menggambar penonton (crowd) lomba balap motor…lengkap dengan gambar penjual minuman dan snack. 😀

  14. arham says:

    kalau karakter budaya kita tidak ada yg kuat tentu ngak salah kalau mereka memilih karakter dari negri sebrang ..

  15. alfaroby says:

    saya termasuk orang yang dengan kukuh tidak melarang anak anak melihat acara film kartun asalkan ada batasnya, asalkan ditemani oleh orang tuanya, jangan sampai keblabasan/keterlaluan,
    ini semua juga demi masa depan mereka

  16. yuda says:

    welwehh..tana identitass

  17. antyo rentjoko says:

    Mencampurdukkan? Itu bukan hanya dunia anak-anak. Dunia orang dewasa malah lebih rumit lagi, termasuk politikus itu. Oh jadi ingat proyek perupa Moeljono di Desa Brumbung abad lalu… Seni rupa untuk penyadaran, melalui anak-anak. :)

  18. sewa mobil says:

    yah soalnya film si unyil sudah tidak ada. sekarang ganti naruto yang lagi Sewa Mobil di desa maju terus. 😀

  19. zenteguh says:

    kita memang sudah tidak bisa mengotak-kotakkan dunia tertentu pada anak-anak karena itu bisa diartikan pengekangan. Kebijaksanaan kita adalah memberitahu dan mengajarkan mereka bagaimana memilih dan memilah…

  20. NoRLaNd says:

    Mungkin ini yang dimaksud, hidup yang tidak flexible sangat membosankan….
    Sama seperti hidup mereka yang diatur2 oleh peraturan yang tidak relevan…

Leave a Reply to Pencerah Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>