Balung Buto Sangiran

You may also like...

34 Responses

  1. Andy MSE says:

    jangankan urusan fosil dan peninggalan purbakala… urusan budaya asli saja banyak yang terlupa… giliran di-klaim oleh orang lain mencak-mencak.. (doh)

  2. setuju sama mas andy, banyak yang dilupakan sebenarnya di Negara yang banyak memiliki peninggalan sejarah dan budaya ini

  3. elmoudy says:

    Sangiran… inget ama manusia purba
    pitecantrupus erectus… hehe..
    bener gak seh nyebutnya???

  4. yulian says:

    Wah ternyata di sana banyak juga ya peninggalan purbakala, apalagi sudah diakuisi, yang penting bagaimana peninggalan sejarah itu bisa menjadi ilmu pengetahuan buat anak cucu kita, dan bukan untuk diperjual belikan oleh oknum untuk kepentingan pribadi…ya intinya sejarah dan budaya wajib dipelihara… seeeeeppp bos..

  5. marsudiyanto says:

    Nggak ada satupun yang dirawat dengan baik…
    Peninggalan sejarah, bonbin, tempat rekreasi, fasilitas umum dll.
    Semua jorok.

  6. dafhy says:

    kesadaran memiliki memang belum tertanam secara baik di hati nurani rakyat bangsa ini mas.
    kesadaran itu akan muncul jika semuanya sudah di klaim atau diambil orang lain

  7. tary says:

    setuju banget ma dhafy, ditempat aku juga ada prasasti kuno, tapi sayangnya sampe sekarang nggak terawat… dan hampir musnah gt.

  8. gajah_pesing says:

    uang mampu merubah sejarah

  9. belajar blog says:

    berarti ini semua berasal dari kebiasaan…
    harusnya tuh bule ngajarin betapa pentingnya penemuan tersebut untuk keperluan pendidikan dunia dan jangan hanya memberikan uang saja

  10. buset, berawal dari mitos akhirnya berpikir duit
    hmm…
    susah juga kalo ngubah udah jadi kebiasaan seperti itu
    tapi apa bener disana gampang sekali ditemukan tulang berserakan seperti makam di Toraja

  11. GeLza says:

    tidak cuma di sangiran… masyarakat indonesia memang tak bisa menghargai sejarah , semmua peninggalan sudah hampir hancur…

  12. uny says:

    ia yah…..kok lupa…..
    padahal itu penting bgt……

  13. ufianda says:

    sejarah oh sejarah…

  14. OLIP says:

    kita yang hanya disuruh ngrawat ajah kok susah yaks

  15. zen says:

    Apa betul jika mitos buto itu bertahan fosil2 juga akan selamat? Terus terang saya ga seyakin ente, bro.

    Ada banyak contoh di mana mitos yang bertahan pun tak mampu menghalahi penetrasi kapital dalam mengakuisisi fosil2 itu secara ilegal. Situs-situs di pedalaman Amazon adalah contohnya. Ini menjadi ilustrasi paling baik betapa kekuatan kapital bisa mengangkangi kekuatan mitologi yang bertahan di kepala para penduduk. Mereka pny kapital, pny jaringan [dari para pencoleng kelas teri sampai pejabat level A], juga pny teknik dan teknologi. Lha lukisan2 dg pengamanan paling canggih pun bisa dibobol kok. Itu ilustrasi sederhananya.

    Buku terbaik Mircea Eliade tentang “mitologi sebagai gerak balik kepada keabadian” pun dengan meyakinkan menyebut bahwa mitologi tak akan pernah bisa bertahan digempur oleh modernisme dengan kekuatan kapitalnya, terkecuali jika mitologi itu bisa dikonversi ke dalam satu kesadaran yang lebih rasional. Artinya, mitologi itu dibedah-ulang sehingga ia hadir di kepala generasi-generasi terbaru bukan sebagai sesuatu yang gaib dan wingit, tapi sebagai satu elemen dari narasi besar pemahaman tentang asal-usul komunal.

    Bagi saya, harus dicari cara lain selain berharap pada kekuatan mitologi yang terang-terang rapuh dihadapan para pemilik kapital itu. Huizinga, ketika menjelaskan bagaimana tilas2 peradaban renaissance bisa bertahan dg sangat baik di kota-kota italia, menyebutkan betapa itu semua bisa terjadi karena suatu proses “pendidikan” yang panjang di mana diwedarkan kesadaran betapa apa yang tertinggal dari masa lalu adalah sesuatu yang pantas dan harus dijaga. Ada kesadaran yang kuat betapa masa kini dan masa depan mereka terhubung dalam satu kontinum dengan masa silam.

    Saya kira, mendidik dan membangun kesadaran tentang pentingnya fosil-fosil itu akan jauh lebih pny masa depan sebagai salah satu alternatif ketimbang mengeluhkan punahnya mitologi, termasuk mitologi balung buto.

  16. Haris Firdaus says:

    @ zen: jika penetrasi kapital terjadi dan mengalahkan mitos, itu kan artinya mitos tak lagi dipercayai. ia tak lagi bertahan bagi sebagian orang itu. saya juga berpendapat bahwa sangat susah–atau malah memang tak mungkin–mengembalikan mitos dg kekuatan seperti dulu, saat di mana manusia belum digempur modernisme. karena itu pula, saya juga berpendapat bahwa gagasan ilmiah itu perlu disosialisasikan dlm kasus ini. sementara, mitos balung buto perlu dikisahkan kembali–atau mungkin dikeluhkan kepunahannya–supaya masyarakat mengingat lagi bagaimana perlakuan leluhur mereka terhadap fosil. tak ada yang jelek dlm soal pengingatan ini menurutku, bro.

  17. DV says:

    Perkara jual beli benda peninggalan kuno memang memprihatinkan, ya…
    Seharusnya semua peninggalan itu jadi konsumsi publik karena pertanggungjawaban moral serta sejarah pada anak cucu ketimbang dikurung di museum-museum pribadi yang berduit…

  18. masmpep says:

    pertanyaan ringan saja, seandainya fosil2 itu tersimpan rapi. kemudian dipelajari. kira-kira kita akan memperoleh manfaat apa ya? mengetahui ‘kelampauan’? setelah itu akan kita apakan pengetahuan ini ya?

  19. agus raharjo says:

    soal diskusimu dan Zen: saya kira, penetrasi kapital memang terus berlari, dia tidak pernah menghiraukan mitos, kepercayaan, atau belas kasihan. Kapital punya kepercayaannya sendiri. hmm… solusinya saya sepakat dengan penyadaran secara ilmiah terhadap warisan-warisan itu. bukan lagi dengan mitos-mitos lama, atau bahkan membuat mitos baru. sekarang kita semakin dapat menganggap masyarakat sebagai intelektuil person. hehehe…istilahnya… pokoknya itu.
    menurutku, kapitalis juga berangkat dari logika-logika berpikir, hanya saja terlalu picik dan berpikiran jangka pendek. halah..

  20. ciwir says:

    aku senenge balungan sapi wae lah/…
    jikakakakaa

  21. komuter says:

    mari jaga heritage kita….
    semangat..

  22. guskar says:

    kejadian jual-beli seperti di sangiran selalu ada di sekitar situs purbakala, repotnya klo hal ini sdh melibatkan jaringan mafia. ini terjadi juga di dekat situs candi batujaya. kalo nggak salah dua tahun lalu masyarakat di sekitarnya ngacak2 sawah tegalnya untuk mendapatkan beraneka macam peninggalan masa lalu, sementara di warung2 sdh ada org2 yg siap membeli barang temuan mereka.
    **saya lg baca MTI 2 mas.. minggu lalu pesen ke mas Yudhi. :)

  23. arifudin says:

    semoga tulisan ini dibaca oleh bapak dinas yang mengurusi segala budaya yang ada di nusantara ini 😉

  24. nahdhi says:

    Kapan-kapan saya tak kesana kang. Mencoba menelisik secara Geologis…. :p

  25. Artha says:

    menarik sekali akan ceritera ini

  26. wah, saya sudah lama banget ndak ke sangiran, mas haris. hmmm … ternyata ada juga balung buto-nya.

  27. annosmile says:

    belum pernah ke museum itu
    saya membayangkan nasibnya terbengkalai seperti museum-museum yang lain..

  28. narsis says:

    daerah ku juga bnyak tuh yang kurang dapat perhatian pemerintahan..

  29. D3pd says:

    Yang itu gading yak ^_^…V salam D3pd…

  30. suwung says:

    dari pada jual diri kayaknya bro

  31. mbah gendeng says:

    maaf baru sempat mampir nih setelah kesibukan mendera

  32. Uchan says:

    Orang sini malah tergila2 sama budaya jepang yah, atau korea. Bener2 dah 😆

  33. manusiasuper says:

    bangsa ini memang tidak menghargai masa lalu dan meremehkan masa depan…

  34. nico says:

    hm.. saya baru tahu kalau fosil dijual belikan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>