Temannya Soe Hok Gie

You may also like...

25 Responses

  1. yanu says:

    ee ladalah ris ris, udah semangat baca judulnya, e ternyata… gubrakk..!!!

  2. Haris Firdaus says:

    @ yanu: ternyata seru kan? ha3.

  3. tak kirain opo mas…
    salam kenal :)

  4. Dhany says:

    ternyata oh ternyata…

  5. zee says:

    Well, mungkin selama ini banyak wartawan lain yg terima duit dr dia, jadi ya agak awajar klo dia menyamaratakan semu wartawan.
    Yah namanya jg sudah tua, mungkin sdh tidak seidealis dulu :).

  6. Roy Thaniago says:

    Ris, kurasa dia bohong. Gie itu mati tahun 69, 5 tahun sebelum meletus Malari. Dan di catatan hariannya, aku ga pernah nemu catatannya mengenai Soeharto deh. Setuju dgn pendapat di atas: Judulnya menipu! Haha..

  7. guskar says:

    he..he.. dulu ketika masih ada Gie barangkali dia sungkan mas. idealismenya hanya karena Gie ada di dekatnya, begitu Gie sdh tidak ada semangatnya ikutan padam dan terlarut dalam kebiasaan yg “lumrah” spt menyuap wartawan :)

  8. lama gak bertamu disini, ternyata suguhan yang disajikan sudah “agak” berubah..entah kenapa membaca tulisan diatas dari awal sampai rampung tidak juga saya menemukan sosok Haris yang dulu sempat saya kenal…hehehe..tapi it’s ok lah, bukankah yang benar-benar tidak berubah di dunia ini hanyalah perubahan itu sendiri… piye Ris? krasan nang ibukota?

  9. hasssan says:

    untung Gie nggak ada, mungkin kalau masih ada bisa dikonfirmasi perihal teman itu :D

  10. wah, pengalaman yang menarik. tdk harus selalu curiga, tetapi kewaspadaan tetep penting dijaga, mas haris. kok bisa begitu? kalau ada orang bicara soal korupsi, tapi dia sendiri malah mencoba beri amplop, gimana tuh?

  11. atmo says:

    halo kang harris !! menarik tenan ceritamu,
    LSMe judule apa kui ?

  12. tdy says:

    bukannya kamu juga temannya Gie? sempet ketemu kan dulu? wkwkwkwkw

  13. keknya beritanya lebih menarik kalo ditulis soal LSM-nya tuh kang…wkwkwk…

  14. abibenra says:

    mungkin kalau Gie baca ini miris hatinya. 1. namanya dicatut oleh B, 2. pencatutan itu disebarkan luaskan oleh jurnalis muda lewat blognya. kenapa saya berani bilang dicatut? karena tak ada pelacakan yang serius untuk memastikan B adalah temannya Gie. Pertemanan yg dilukiskan serampangan karena ditulis hanya mengaku kenal. Gie mungkin tambah miris ketika si jurnalis muda itu merasa senang karena bertemu dengan sesorang yang mengaku kenal Gie daripada senang berhasil melacak data korupsi. tabik

  15. Ael says:

    Ak ra kenal karo soe hok gie mas, apakah film lain selain sang pemimpi yang katanya gagal menyaingi laskar pelangi? (kumpulan anak-anak desa luar biasa)

    Ah mbuh ah, malah mumet*

  16. Ael says:

    Ak ra kenal karo soe hok gie mas, apakah film lain selain sang pemimpi yang katanya gagal menyaingi laskar pelangi? (kumpulan anak-anak desa luar biasa)

    *Ah mbuh ah, malah mumet*

  17. haris says:

    @ abibenra:
    (1) saya merasa tak perlu melakukan “pelacakan serius” atas pengakuan B bahwa ia kenal Gie. untuk apa? saya kok malah merasa lucu kalau diharuskan melakukan “pelacakan serius”. he2. maaf. (2) tolong tunjukkan di mana saya menuliskan bahwa saya “merasa senang karena bertemu dengan sesorang yang mengaku kenal Gie daripada senang berhasil melacak data korupsi.” dari mana anda mengambil kesimpulan itu? he2. apa hubungan pertemuan saya dengan B dengan “kesenangan” saya melacak data korupsi? kenapa kamu menuduh saya “lebih senang ketemu dg B ketimbang melacak data korupsi”? pertemuan dg B adalah bagian dari pelacakan itu juga kan? terus terang saya sebenarnya tidak senang ketemu B–tak peduli bahwa ia mengaku temannya Gie–karena tak mendapat data banyak. tapi apa perlu rasa jengkel itu diperpanjang? kenapa tak mengambil sisi “lucu”-nya saja, kemudian membagikannya? itu cuma pikiran saya yang masih hijau. he2. maaf saya ketawa terus :)

  18. haris says:

    @ roy: terima kasih data-datanya.

    @ sawali: benar pak. terima kasih.

    @ tukang gunem: perubahan apa yang kamu maksud kawan? :)

    @ atmo: judule lsm rahasia dunk. hi3.

  19. abibenra says:

    kalimat “kalau tak dapat data, lumayanlah bisa ketemu temannya Soe Hok Gie yang kesohor itu” ini yang membuatku berpikiran anda senang ketemu si B ini, alih2 mempertanyakan “kebenaran” B sebagai temannya Gie dengan tidak mempertanyakannya tetapi justru “menyebarkan”. thx responnya

  20. ciwir says:

    aku seneng tukang ngguneng (yg juga keriting itu) akhirnya methungul maning
    wahahahahaha

  21. ikram says:

    @Abibenra: Haris kan bercanda di kalimat itu. Ada smiley-nya.
    @Haris: Kerja di majalah apa nih skrg? Bisa ketemuan dong!

  22. zenteguh says:

    ah, rupanya saya juga ketipu judulnya. Ini seni menarik pembaca…:D

  23. deady says:

    menarik sekali postingan ini
    berasa kembali ke jaman 70s
    hahahaha

  24. Gombal's says:

    huwahahahaha. ketawa saya bacanya. jakarta semua ada. g perlu ragu dan malu hidup di kota jakarta. salut salut

    -Salam Kenal Salam Gombal’s

  25. tengkuputeh says:

    Belum tentu dia bukannya teman Soe Hok Gie. Bisa jadi waktu telah melunturkan idealismenya dengan menawarkan uang, atau mungkin dia sudah sering diminta, jadi sama sama tahu. Ada banyak kemungkinan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>