Perempuan dan Risalah Perang

You may also like...

12 Responses

  1. Begitulah perang. Meskipun diatur sedimikian rupa agar ndak timbul korban dari warga sipil yang ndak berdosa, tapi hal itu susah banget terhindarkan. Rasanya akan susah banget meniadakan perang dari sejarah kehidupan manusia sampai kapanpun. Tapi semoga masih ada harapan bahwa di masa depan perang akan dihapus dalam daftar cara penyelesaian sengketa.

  2. presyl says:

    wah.. bener2 kelewatan si tentara amerika. nyawa manusia udah ga berharga lagi buat dia.. sayang, bukunya belum sempet baca, ntar liat deh klo ke toko buku.

  3. dedi says:

    jangan biarkan wanita ikut :(

  4. indratie says:

    semoga negara ini selalu aman dan damai, amiin

  5. helmy says:

    semuanya tak kan pernah sia-sia, sejarah mencatatnya, selalu. memperingati haul rachel corrie…

  6. zee says:

    Saya baru tahu soal buku itu dan ttg dia. Kisah hidup yang tragis dan memilukan. Perang memang telah membuat mata dunia buta,tp memang selalu ada yg tidak buta, walaupun sulit utk menyadarkan mereka yg buta itu.

  7. Jun says:

    hm, penulis hebat yang terlahir di tengah” situasi yang panas :)

  8. jadi inget si mungil beecher stowe. berkat catatan hariannya yang tertuang dalam “gubug paman tom”, perubahan drastis terjadi di negeri paman syam, tak ada lagi sikap rasis yang biasa dilakukan orang2 kulit putih.

  9. gus ikhwan says:

    malah baru tau tentang buku ini
    makasih infonya

  10. Roy Thaniago says:

    Kalau aku ditabrak bajaj, dan buku harianku diterbitkan, apakah kamu berkenan menuliskan ulasannya? hahaha..

  11. Sartika says:

    aku berumur tujuh belas saat membaca diary anne frank,..dari referensi film freedom writers yang mengangkat buku itu sebagai something inspirational bagi para muda-mudi AS yang tinggal di bagian selatan. aku baca versi inggrisnya, dan setelah seharian baca, mataku lebam. banyak menangis ternyata tak enakk…

    Dari film itu aku tahu satu hal, AS bukan hanya memerangi bangsa lain. tapi di lihat dari sejarahnyapun dari jaman nenek moyang lima turunan, AS memerangi saudaranya sendiri: kulit putih. perang sesama ras itu terjadi tatkala imperialisme kedua dibarat tumbuh dan juga beberapa penyebab lain seperti: agama dan ekonomi.

    Dari perang saudara :kulit putih versus kulit putih itu ternyata tak cukup bagi koloni kulit putih yang tinggal di AS untuk bertahan. Kemudian mengharuskan mereka untuk memerangi indian atau native american, mengusir mereka dari tanah mereka, dan semakin getol mendatangkan budak-budak dari ras kulit hitam.

    Perang kembali terjadi. Kulit hitam menuntut kesetaraan HAM.

    Sejarah Amerika memang tak pernah lepas dari yang namanya ‘perang’.

    Tapi aku setuju, dengan siapapun itu…Anne Frank, Weil dan Bespaloff, Rachel Corrie dan segenap wanita yang “mungkin” merelakan diri untuk berkorban bahkan dengan nyawa sekalipun. Sungguh heroik.

    “Inspite of everything, I still believe that people are really good at heart…”
    -Anne Frank 1941-

  12. febri says:

    sedih memang melihat kekerasan israel. tapi ada satu pertanyaan, adakah wanita Indonesia seperti Corrie???

Leave a Reply to Sartika Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>