Filosofi Roti Dewi Lestari

madre

You may also like...

24 Responses

  1. sepertinya menarik…
    sejak mencoba membaca supernova 2, dan tidak bisa kuselesaikan. sepertinya aku gak tertarik lagi baca dee. tapi kupikir itu gak adil ya. kadang seseorang gagal di buku ke sekian, tapi ia akan kembali di buku kesekian… 😉

    • haris says:

      bener mas. aku selalu suka novel2 dee malah tapi dalam kumpulan cerita yang kayak gini ini aku berlainan pandang dengan banyak penggemarnya. hi3. bacalah supernova mas. bagus 😀

  2. elsara says:

    Hore! Akhirnya diulas juga roti, eh, buku terbaru Dee. Sudah kelar mengejar mafia sepertinya. :p

    Hmm, yang gue rasakan setelah membaca Madre tidak jauh berbeda dengan lo. Yang paling terasa mengganggu adalah betapa campur aduknya tulisan-tulisan di dalam buku ini. Alih-alih mendapat suasana ‘baru’ saat berganti judul, gue malah terasa seperti sedang menonton televisi dengan orang yang seenak jidat menguasai remote control dengan mengganti-ganti saluran. Pusing. Selain soal teknis, faktor cerita dalam Madre juga gak terlampau kuat.

    “Yang bikin saya tambah sedih, setelah membaca Madre, saya menjadi sangat yakin tidak semua tulisan dalam buku itu bahkan bisa disebut sebagai “cerita” yang utuh. Sebagian di antara isi buku itu, bagi saya, hanyalah semacam puisi dan curahan hati Dee.”

    Sangat setuju. Meskipun di prolog Dee sudah ‘memberi peringatan’ bahwa beberapa tulisan di Madre pernah dimuat di blog, tapi gue tetap kecewa, karena tidak menyangka bahwa isi blog yang dimaksud benar-benar cerita personal yang memang lebih pantas digratiskan, tidak usah usah dibukukan, apalagi sampai dibanderol 50 ribu.

    Selesai dengan Madre. Sekarang, gue malah penasaran, dan ikut berandai-andai, bagaimana jika seorang Ayu Utami yang menulis seluruh cerita cinta yang pernah ditulis oleh Dee. Sepertinya akan lebih berliku, sukar ditebak, dan jauh dari formula cinta klasik bin usang yang jadi modal utama Hans Christian Andersen. 😀

    • haris says:

      setuju dengan kalimatmu ini sar:

      “Meskipun di prolog Dee sudah ‘memberi peringatan’ bahwa beberapa tulisan di Madre pernah dimuat di blog, tapi gue tetap kecewa, karena tidak menyangka bahwa isi blog yang dimaksud benar-benar cerita personal yang memang lebih pantas digratiskan, tidak usah usah dibukukan, apalagi sampai dibanderol 50 ribu.”

      kalau mau membukukan sebuah cerita, harusnya memang yang utuh, ada kisahnya yang jelas, standar cerita pendek atau novelet lah. jangan curhat dibukukan. itu pula yang membuat aku sampai sekarang malas membaca buku Fahd Djibran yang isinya curhat sok pilosopis itu 😀

    • J.B. Sukoco says:

      Tapi,banyak pula lho pembaca yang senang dengan buku tipe “curhat sok philosophis”. Ini cuma soal selera. Sekali lagi, ini cuma soal selera. *uhuk-uhuk*

    • Haris Firdaus says:

      kalau soal kualitas dalam seni semuanya dikembalikan ke soal “selera”, tentu tak ada yang namanya “kualitas” itu. seorang pembaca memang berhak suka pada karya apa saja, tapi seorang kritikus akan memberi argumentasi kenapa dia suka satu karya dan tidak suka karya lain. ini soal pertanggung jawaban juga lho 😀

    • elsara says:

      Sepakat sama Haris. Kalau murni soal selera, dari awal saya tidak akan umembeli Madre dan membacanya sampai habis. Cukup bermodal pengalaman membaca Supernova. Bagus, tapi tidak membekas. Lagipula nggak kebayang kalau semua produk kreativitas ujung2nya dikembalikan pada “selera”. Bisa terbit buku “The Death of the Critic” nanti. :p

  3. Zippy says:

    Wiw..ulasannya lengkap amat mas 😀
    Kalo saya sih terus terang gak begitu suka dengan jenis buku seperti ini 😀
    Bukan, bukan karena gak suka ceritanya, tapi gak mampu baca buku yang halamannya tebal 😆
    Saya biasanya baca novel komedi yang cenderung lebih tipis dan ringan untuk dibaca 😀

    • haris says:

      Madre gak tebal2 amat kok mas. monggo lho coba dibaca. gak terlalu berat kok :)

    • Nida says:

      Yup. Madre itu nggak seberapa tebal. Masih tebal buku Musashi atau Taiko. Bisa dibuat bantal, saking tebalnya :p

  4. tengkuputeh says:

    Mungkin Dee sedang ini mengganti gaya, atau mengubah mood. Kadang-kadang sebagai penuis amatir saya juga merasakannya kok. Mengganti pola penulisan jadi lebih ringan atau berat, ya enak juga. Cobalah. Pasti puas 😀

    • haris says:

      Dee tidak ganti gaya dalam Madre ini kok. masih sangat kerasa gaya Dee yang sama dengan Perahu Kertas. tapi memang beda jauh dengan Supernova. sejauh ini memang ada dua gaya yang dipakai bergantian oleh Dee. itu menurut saya saja sih. he2 😀

  5. bintang says:

    dari semua buku dee, aku masi cinta mati sama KPBJ dari supernova :)

  6. Nida says:

    Aku baru beli Madre tadi malam karena buku ini baru masuk Semarang beberapa hari yang lalu. Belum aku baca semua sih, intinya cerita yang dibuat Dee itu selalu menarik. Tapi tetap saja, buku yang paling aku jagokan itu adalah Perahu Kertas. Membacanya bikin aku serasa kembali lagi ke masa SMA. :)

  7. ROYYAN JULIAN says:

    aku sudah baca semua buku dee. bukan karena aku punya, tapi pinjam ke teman. yang paling kusuka adalah “Supernova: Petir” meskipun aku sedikit kecewa dengan akhir-akhirnya. “Madre” belum kubaca, tapi bakal kubaca (dengan pinjam ke teman).

  8. ivan says:

    menunggu supernova seri betikutnya

  9. Hanni says:

    Waduh, saya belum membaca madre tapi membaca tulisan ini yang menuliskan kalau madre menyerupai filosofi kopi kok saya jadi tertarik. Terus terang, filosofi kopi saya suka, seperti saya menyukai pengarang telah mati – Sapardi. Buku itu menurut saya adalah puisi yang bercerita (narasi puisi). Intinya hanya soal selera he he. Karena ketika saya membaca perahu kertas rasanya seperti cerber. Ketika saya membaca recto verso rasanya saya membaca intisari dari tulisan-tulisan dee sebelumnya. Ya, mungkin ini hanya soal selera.

    • Haris Firdaus says:

      terima kasih, Hanni. kemiripan dengan Filosofi Kopi lebih ke struktur buku yang menurutku kurang kuat konsepnya. tapi Dee memang tipikal penulis semacam ini, yang merasa tidak terlalu masalah bila mengumpulkan tulisan2 yang sangat beda bentuk dan kualitasnya 😀

  10. gwen says:

    yg paling sy suka adalah rectoverso, baik dari segi tampilan maupun isi. tapi filosofi kopi juga memikat sy, mengenai madre, sy belum membacanya… sempat liat di pajang di toko buku tapi belum beli, he..

  11. bejho says:

    sya kasih saran ya… filosofi kopi dan madre gk bisa dibaca lyaknya novel biasa… cara paling pas menikmati dua buku itu adalah membaca secara acak 1 cerita, setiap hari (sya sendiri baca menjelang tidur, biar jdi film di alam mimpi :) klo bacanya kyk novel biasa pasti gak enak, krena rasanya beda2, kyk abis gosok gigi makan jeruk… enggak enak! tetep gw salut ama dee yg ideal, gk mw bikin karya asal2an… dikit2 bikin tulisan klo bagus dikumpulin meski butuh bertahun-tahun… gk kyk penulis kejar setoran yg ngikutin selera pasar…. bravoo dee…

    • haris says:

      pertama, saya kasih saran juga ya: Madre dan Filosofi Kopi itu bukan novel ya, tapi kumpulan cerita. he2. novel dan kumpulan cerita itu beda banget lho.

      kedua, saran Anda itu sama sekali tidak menyelesaikan soal. cara baca memang bisa memengaruhi resepsi kita atas karya sastra, tapi cara baca yang anda sarankan itu teknis banget, dan tidak penting. mau dibaca menjelang tidur atau sehabis bangun, karya yang baik akan tetap baik 😀

  12. lika says:

    gak sengaja nemu rumah mimpi saat sedang mencari-cari “madre” dan menemukan ulasan bagus mas haris tentangnya… rasa2nya apa yang ada di benak saya terwakilkan sudah.. hehe…

    saya pecinta dee.. buku2nya.. lagu2nya.. blog nya.. semua saya lahap.. sedikit kecewa dengan “madre”?.. jujur sayah bilang “iyah”.. karena saya terpaksa harus kenyang melahap karya dee kali ini cukup dengan “sebuah roti”.. padahal terus terang saya masih lapar.. selain cerita tentang madre dan menunggu layang-layang.. cerita dee yang laen nyaris tidak saya baca… ada beberapa yang sudah saya hapal luar kepala karena isinya sudah dimuat di blog nya dee.. yang rajin saya kunjungi…

    anyway… thanks to dee yang tetap menjadi dee.. mengisahkan bentuk cinta yang tidak urakan (ngutip kata2 mas haris).. cinta yang disuguhkan selalu cinta yang tulus.. cinta yang murni.. setiap kali membaca karya dee.. saya selalu berimajinasi menjadi tokoh utamanya.. hehe.. selalu tak sabar menunggu karya-karya dee selanjutnya.. :)

    thanks to mas haris.. ulasannya tentang madre.. top banget…!!!

    • haris says:

      aha, senang sekali saya menemukan sesama penggemar dee tapi tetap mau kritis. penggemar macam ini yang dibutuhkan. penggemar yang baik adalah yang jujur dan tidak taklid buta. he2.

      soal cinta murni, mungkin kita beda pendapat. tapi tetap ada hal yang sama: dee memikat karena dia berhasil meracik cerita dari formula lama, yakni cinta murni nan tulus tadi, tidak seperti penulis lain yg harus mencari formula2 baru nan aneh untuk jadi cemerlang :)

      terima kasih sudah berkunjung :)

  13. rumahkoi says:

    Mantab gan….. keep post

Leave a Reply to elsara Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>