Realisme yang Tanpa Tujuan

Manhattan

You may also like...

2 Responses

  1. Roy Thaniago says:

    Ris,

    Aku mengenal cerpen “Seribu Kunang-Kunang di Manhattan” justru dari guru bahasa Indonesiaku semasa SMA–guru yang malah menceritakan cerpen ini dalam versi yang ngawur, dengan tokoh Jane diubah jadi Chikitia (aku lupa Marno diubah jadi apa. Bahkan, guru ini, selama 3 tahun mengajar, cerpen yang dikenalkan ya cuma ini. Haha.

    Selepas SMA, aku baca cerpen ini dalam versi aslinya–bukan versi guru tadi. Tapi cerpen ini tak punya kesan mendalam buatku. Kisah di balik mengenal cerpen itulah yang amat berkesan buatku. Lamat-lamat, suara guru tersebut jadi terdengar lagi hari ini. Makasih sudah menuliskannya, Ris!

    NB: realisme yang tanpa tujuan. “Tanpa tujuan” mungkin bisa jadi estetika di beberapa kebudayaan di Indonesia. Dalam gamelan Jawa misalnya, di sana “waktu” adalah ruang menunggu dan berputar, bukan sarana menuju ke sesuatu, seperti halnya musik-musik Barat. Ini tafsir ngasal sih. Jangan serius, masnya…

    • haris says:

      wah cerita yang seru, roy. hehehe. btw, ada beberapa teman yang juga bilang mereka ga terlalu suka dengan “Seribu Kunang2 di Manhattan”. mungkin memang seleraku aneh ya 😀

      yang kadang2 tanpa tujuan itu adalah hidup, roy. kalau seni tradisional kebanyakan sih “bertujuan” 😀

Leave a Reply to Roy Thaniago Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>