Sosiologi Agama Hanung Bramantyo

hijab

You may also like...

8 Responses

  1. @aprieJ says:

    Super, pak!

    Tetapi prakteknya di Indonesia, bahkan di jakarta yang katanya sudah modern, tidak bisa memisahkan antara ajaran dan praktik.
    Segala yang tidak sesuai dengan paham fundamentalis, hantam!

    • Haris Firdaus says:

      Yap, betul Pak. Banyak orang yang gak bisa atau gak mau membedakan keduanya. Seolah-olah, penggambaran sebuah praktik berislam yang kurang ideal sama dengan menjelek-jelekkan ajaran Islam.

  2. ted says:

    harusnya ada adegan rapat trus dikasi pembatas gorden… kan Hijab wkwkwkwwkwk

    • Haris Firdaus says:

      hehe. bener itu mas. jadi inget kebiasaan anak2 rohis dulu 😀

  3. Saya sepakat dengan penilaian Mas Haris tentang film Hijab. Menurut saya, justru alasan-alasan pemakaian jilbab, yang ternyata profan belaka itu, adalah daya tarik terbesar film ini. Toh, pada akhir film sudah dikatakan bahwa orang yang berjilbab pun menjalani hidupnya dengan berproses. Mereka membuat kesalahan di sana-sini. Artinya, orang berjilbab bukan lantas jadi makhluk suci. Saya juga senang karena film ini secara lugas menyebutkan satu fakta yang terang benderang, tapi enggan disinggung: hijab sekarang jadi ceruk bisnis yang menggiurkan.

    • Haris Firdaus says:

      @Mbak Andina: yap. sependapat denganmu soal orang berjilbab bukan makhluk suci–sesuatu yg lupa aku singgung dalam tulisan ini. salah satu sisi menarik film ini memang penggambaran bahwa para wanita berjilbab itu adalah “manusia biasa” yang bisa bilang “anjrit” saat mengikuti pengajian, bisa berbohong, bisa bergunjing, dsb. jauh dari gambaran tokoh2 alim dalam film religi lain.

  4. Itulah sosiologis kebanyakan orang indonesia.. banyak yang menganggap karya karya orang lain buruk dan dia paling baik..banyak judges2 masa kini..!! Tidak pernah bisa mengambil hal positif dari sebuah karya..

  5. haris djauhari says:

    Sebuah karya yang di hasil kan dari proses idealis pasti akan menuai kritik, jadi biasa sajalah. Energi pemikiran dan konsep terkadang salah pada ruang dan waktu, jadi biasa sajalah mengkoreksinya.
    Mas HB, yang dengan ilmunya memproduksi karya seni cinematography, tentunya lebih mampu. Membidik dan menghadirkan wacana informasi lewat seni perfilman jd ini hanya sekedar proses.
    Mau meninggikan Islam? Tampilkan nilai kebenaran sebagai tarbiyah. Jika sosiologi jd terminologinya, masih banyak ide yang digali dalam koridor fastabiqul khoirot. Jadi eksplor saja terus tanpa lepas idealismenya.
    Pengkritik, dan yang dikritik adalah sinergi, biarkan saja.
    Laku atau tak laku sebuah karya hanya tinggal masalah promosi dan marketingnya saja. Singkronisasikanlah saja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>